Nov 11 2009

teroriscinta

Media Belajar Kebijakan Publik untuk Komunitas Buta Aksara: Eksperimen IDEA Yogyakarta

Filed under Idealism, berita

Membelajarkan masyarakat untuk melek kebijakan publik tidaklah mudah. Apalagi jika warga belajar adalah mereka yang buta huruf, hidup di daerah terpinggir di pelosok perdesaan, dan punya akses terbatas terhadap informasi.

Masyarakat dengan karakteristik demikian cenderung memandang soal-soal kebijakan sebagai urusan abstrak dan berada di luar jangkauan mereka. Jangankan memahami anggaran yang relatif njelimet dan rumit, misalnya. Bahkan kebijakan-kebijakan publik yang bersifat umum saja lazim dianggap sebagai sesuatu yang asing.

***

Tapi IDEA (Institute for Development and Economic Analysis) Yogyakarta punya cara sendiri untuk menyiasati kesulitan itu. LSM yang sudah bertahun-tahun mendampingi masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Gunungkidul ini menggunakan media-media belajar yang unik.

1

Bentuknya sederhana. Poster-poster kecil tematik seukuran kertas A4. Poster ini bergambar sederhana. Lihatlah contoh Poster 1. ”Seorang bapak digambarkan tengah bersiul berjalan menuju balai desa untuk mengikuti Musrenbang. Sementara di belakangnya si ibu pontang-panting mengurus dapur, menggendong anak di tengah tumpukan cucian, nasi gosong, dan piring sisa makan semalam berserakan”.

Poster ini secara jenial mempertontonkan sebuah sisi gelap perencanaan pembangunan yang selama ini luput dari perhatian. Ialah bahwa perencanaan pembangunan di tingkat perdesaan, yang kerap disebut Musrenbang cenderung meminggirkan perempuan. Urusan rapat dan musyawarah adalah urusan laki-laki. Perempuan cukup di dapur dan bersibuk dengan soal-soal domestik.

Poster ini biasa digunakan IDEA dalam pembelajaran tentang bias gender dalam kebijakan publik.

Bayangkan seandainya tema gender dibawakan dengan ceramah tanpa sentuhan media. Warga belajar yang rata-rata adalah petani lahan kering hampir dipastikan mengantuk atau pamit pulang. Proses pembelajaran bukan mencerahkan tetapi memberi beban baru bagi perempuan perdesaan.

Poster macam ini telah membuat tema belajar yang berat dan mengawang-awang itu menjadi lebih sederhana, akrab, kontekstual, mengundang gelak tawa, dan merangsang diskusi. Seorang fasilitator tak perlu banyak berkhotbah. Cukuplah dia bertanya: ”Menurut ibu-ibu, gambar ini bercerita tentang apa? Di gambar ini, bapak sedang apa? Ibu sedang apa? Mengapa bapak bersiul? Ada yang punya pengalaman mirip dengan gambar ini? Bisa ibu ceritakan?”

Kalau sudah begitu, warga belajar biasanya akan nyerocos bicara. Selanjutnya fasilitator tinggal menyimak kesaksian warga, mencatat, menyimpulkan, dan merangkumnya. Sumber belajar adalah pengalaman langsung. Warga belajar adalah guru. Fasilitator adalah seseorang yang hanya bertugas mempermudah proses belajar. Inti pendidikan orang dewasa tidak lebih dari itu.

***

2

Namanya Feriawan. Staf informasi IDEA inilah yang membidani poster-poster tematik itu. Tak punya latar belakang pendidikan seni rupa, tapi dia terampil menangkap momen dan menuangkannya ke dalam gambar. ”Tidak perlu bagus gambarnya. Yang penting jelas dan kena. Tapi itu justru sering lebih sulit, ya”, katanya.

Di meja kerjanya tersimpan puluhan poster tematik yang sudah teruji efektif menjadi media belajar, serta ratusan sketsa dan illustrasi yang tengah dikerjakannya. ”Saya berniat membukukannya”.

Proses kreatifnya menarik disimak. Biasanya dia mempelajari dulu materi belajar yang disodorkan para fasilitator dan community organizer. ”Setelah pesan belajar tertangkap, lalu saya mencari kejadian nyata apa yang kira-kira cocok dengan pesan belajar itu. Baru kemudian saya menggambar”.

3

Tidak semua illustrasi dan gambar yang dia buat berhasil. ”Setelah gambar dipakai, teman-teman biasanya memberi masukan gambar kurang ini kurang itu. Lalu saya perbaiki lagi, dan diuji lagi, diperbaiki lagi. Begitu terus”. Kadang-kadang dia ikut melihat bagaimana poster yang dibuatnya dipakai sebagai media belajar.

”Mungkin Anda sudah harus bikin panduan penggunaan poster itu,” begitu saya bilang padanya. Cobalah bikin catatan ”riwayat” masing-masing poster: poster ini dipakai untuk tema diskusi apa saja, khalayaknya siapa saja, berapa lama dipakai, respon apa yang muncul dari warga belajar, apa saja pertanyaan pemancing diskusi yang digunakan, dan seterusnya. Jadi, kelak para fasilitator tidak harus memulai dari nol karena sudah ada panduannya. Dia tinggal memperdalam dan menajamkannya. Hemat waktu dan tenaga.

”Wah! Ide menarik itu,” katanya.

***

Sejarah eksperimen penggunaan media untuk pendidikan dan penyadaran kritis yang dilakukan IDEA Yogyakarta lumayan panjang. Lembaga ini pernah membikin ”Panjangka tan Kena Sirna” (Harapan yang Tidak Pernah Padam), sebuah film tentang pengalaman perempuan di beberapa desa di Kabupaten Bantul Yogyakarta menghadapi permasalahan kesehatan dan anggaran.

Film ini dibuat sendiri oleh para perempuan desa. Mulai dari penyusunan jalan cerita, hingga pengambilan dan penyuntingan gambar.

4

Rupa-rupa media massa, mulai dari radio komunitas hingga koran-koran lokal juga pernah dipakai untuk mempublikasikan kegiatan dan gagasan mereka. Tetapi penggunaan media massa ini kerap terganggu keberlanjutannya, baik karena kelangkaan sumberdaya maupun kepentingan bisnis media massa. Dampak penggunaan media massa yang menyasar khalayak luas juga relatif sulit diukur.

Mungkin itu sebabnya IDEA Yogyakarta lebih memilih untuk menekuni pengembangan media pembelajaran dan penyadaran yang lebih menyasar komunitas spesifik warga perdesaan. Pilihan ini juga terlihat dari ragam format media yang kaya gambar, menggunakan bahasa lokal, dan ungkapan-ungkapan yang sederhana. Pilihan yang langka, tapi pas, dan mungkin berdampak lebih nyata.

(Dwi Joko Widiyanto)

Dimuat pada: 8 October 2009

Sumber:  http://desentralisasi.net/info-fppm/media-belajar-kebijakan-publik-untuk-komunitas-buta-aksara-2_20091008

No responses yet

Sep 16 2009

teroriscinta

Download Software Kamus Besar Bahasa Indonesia lengkap versi offline (Stardict) beserta tutorial instalasinya

Filed under Download, IT, Web/Tech

Tertarik untuk memasang software Kamus Besar Bahasa Indonesia di komputer/laptop anda? Sebenarnya sejak beberapa waktu lalu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah tersedia dalam versi online di situs http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/ tetapi tentu saja situs ini tidak ramah kepada kaum miskin, khususnya miskin koneksi internet.

Di beberapa blog, kemudian saya temukan ternyata ada pihak-pihak yang telah berhasil melakukan pendatabase-an dari KBBI untuk bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan software Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kalau menurut sumber sih, namanya mas Steven yang bisa anda lacak di sini. Beberapa diantara teman blogger juga telah mengupas bagaimana pemanfaatan software ini, salah satunya dengan menggunakan software bebas berlisensi publik dengan nama Stardict. Salah satunya adalah di sini.

Posting saya kali ini adalah untuk melengkapi kawan-kawan yang telah membuat software Stardict KBBI tersebut agar anda ataupun pembaca blog ini yang kemungkinan masih sangat awam dengan instalasi software, bisa dengan mudah melakukan instalasi KBBI versi stardict di komputer anda. Saya telah menyusun tutorialnya beserta gambar-gambar yang membantu anda memahami step-by step instalasinya. Tidak rumit! Saya jamin.

Intinya ada dua langkah mudah untuk memasang software stardict KBBI, pertama install stardictnya, dan kedua install saja database nya.

DOWNLOAD

Anda bisa mendapatkan langsung dua software tersebut: stardict versi windows di sini dan database kbbi di sini. Atau jika anda tidak mau ribet, download keduanya (satu paket) langsung di sini (BoxNet)

TUTORIAL INSTALASI

Anda bisa melihat, ataupun mendapatkan (download)tutorial instalasinya di sini(scribd) atau klik aja gambar di atas . Semoga membantu. Semoga Anda sukses dan mohon doanya jika anda memperoleh keberuntungan karena tulisan ini.(*)

One response so far

Sep 10 2009

teroriscinta

Download Software Kamus Tembung Jawa (Ngoko-Krama Madya-Krama Inggil) v.1

Filed under Download, IT, Idealism

Download Software Kamus Tembung Jawa Ngoko-Krama Madya-Krama Inggil v.1 karya Feriawan Agung Nugroho. Sebuah Software Kamus yang berisi pemilahan kata dan istilah bahasa Jawa sesuai dengan adab dan kesopanan masyarakat Jawa. Dibuat dengan lisensi freeware dan free software.

Bismillahirrahmanirrahim,

Kamus Tembung Jawa Ngoko-Krama Madya-Krama Alus ini dibuat untuk memudahkan siapa saja yang berniat berbahasa jawa sesuai dengan adat dan sopan santun yang berlaku. Sebagai sebuah software komputer, kamus ini juga memberikan kemudahan kepada penggunanya untuk mencari kata dalam bahasa ngoko untuk kemudian dapat diterjemahkan secara cepat.

Kelebihan dari kamus ini adalah: simpel, mudah digunakan oleh siapa saja, ukuran file yang kecil dan tidak membebani memori serta harddisk, bisa digunakan oleh komputer dengan spesifikasi lawas ataupun rendah (komputer tua), kontennya bisa diedit dan ditambah sesuai dengan keinginan penggunanya, tidak ada proteksi database.

Selain itu, kamus ini menang sengaja digratiskan (sebagai free software) oleh saya selaku pembuat dengan tujuan untuk mewujudkan kecintaan dari saya kepada budaya daerah sendiri yang konon mulai luntur dan pudar. Saya akui sendiri bahwa saya adalah bagian dari anak-anak muda yang sudah kehilangan Jawanya (kelangan jawane). Sebelum terlanjur punah ataupun dirampok mentah-mentah oleh bangsa lain, maka sudah selayaknya bagi pembuat aplikasi ini untuk berbuat yang terbaik bagi negeri sendiri, khususnya bagi pelestarian budaya Jawa.

Gagasan untuk meramu Kamus Tembung Jawa sesungguhnya berawal dari nasihat Ayahnya penulis yang tinggal di Semarang, namanya Bapak Sunartyono, seorang yang sederhana dan sangat idealis (kalau bisa malah dikatakan nasionalis) yang kerap kali berpesan agar saya turut andil dalam pelestarian budaya jawa. Ayahnda adalah salah seorang yang berdedikasi, bekerja sebagai panatacara lan pamedhar sabda (MC Basa Jawa) yang juga salah seorang yang mendirikan kelompok pecinta kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa yang bernama Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani).

Penyusun menyadari, selain bahwa mewujudkan amanah orang tua adalah bagian dari cara meraih surga Illahi, penyusun berpikir: “kayaknya pesan dari Ayahnda ini tidak main-main deh”. Ada sesuatu yang memalukan ketika penyusun mendapati bahwa orang-orang yang melestarikan budaya jawa justru sebagian besar adalah bangsa-bangsa asing yang sangat kagum terhadap kebudayaan kita sendiri. Mereka rela datang dari jauh-jauh hanya untuk sekedar mempelajari wayang, mempelajari gendhing, mempelajari sastra, kitab Centhini, Babad Jawa dan mengumpulkan beberapa artefak-artefak penting. Sungguh suatu bangsa yang memalukan ketika sebagian besar kekayaan peninggalan budayanya justru lebih dihargai tinggi oleh orang lain ketimbang dihargai oleh kita sebagai pewaris sah atas kekayaan budaya negeri sendiri.

Bukannya tidak ada anak muda yang merasa tertantang untuk mau melestarikan budaya sendiri. Tetapi penulis merasakan bahwa transfer kebudayaan antara generasi tua dan generasi muda sepertinya tidak mulus. Orang-orang tua begitu cuek melihat bahwa anak-anak mudanya lebih didekte oleh budaya Jakartanan ala sinetron kelas kampret dengan cerita model kutu kupret yang memperbodoh logika, mengakali nalar sehat, mengumbar kekerasan, syahwat, gaya hidup gedongan dan konsumerisme, serta kehidupan bak negeri dongeng yang terus meninabobokkan anak muda. Pemerintah…kadangkala saya juga sangsi terhadap kepedulian pemerintah untuk melestarikan kebudayaan. Alasannya adalah anggaran yang tak cukup lah, tidak marketabel lah, logika proyek lah, dan ..pokoknya nggak perduli lah.

Sekedar rasanan, penyusun tinggal di Jogja. Kalau dulu Jogja ini kaya dengan kelompok-kelompok kesenian macam kethoprak, ruang-ruang budaya, pagelaran-pagelaran, sekarang mungkin lebih menonjol geliat ekonomi model mall dan hiburan gaya kapitalis.Universitas yang bertugas menjadi gerbang terakhir kepedulian terhadap budaya, malah larut dalam alam kapitalisme dengan memahalkan biaya pendidikan sehingga cuma orang kaya yang sekolah, tidak perduli apakah si mahasiswa tersebut punya idealisme ataukah numpang beli gelar.

Lalu bagaimanakah ruang-ruang untuk anak muda yang gerah dan kritis terhadap kebudayaan, khususnya kebudayaan Jawa ini bisa berpartisipasi kalau kondisinya sudah demikian? Secara tidak sadar penulis merasa bersyukur atas “kentut” dari negeri Jiran yang memanggil kembali nasionalisme dan kepedulian terhadap kebudayaan kita. Hanya saja, takutnya adalah gagasan itu cuma anget-anget tai ayam. Biasa, lah. Masyarakat kita adalah masyarakat yang (katanya) mudah melupakan sejarah, pemaaf, pandai membuat kerumunan, senang menggebuk, tetapi nggak pandai membangun, membuat shof atau barisan, nggak pandai berorganisasi dan terancam berorientasi uang an sich.

Nah, semoga dengan perwujudan gagasan yang kecil ini bisa sedikit banyak memacu anda-anda semua untuk ikut-ikutan melestarikan budaya kita sendiri.

MENGAPA GRATIS/FREEWARE

Sebenarnya sih ..pengennya ..nggak gratis. Jujur saja, demi membuat kamus ini saya yang nol besar dalam bahasa pemrograman menyelakan ataupun mengurangi sedikit waktu tidur demi mempelajari bahasa pemrograman sampai kemudian bisa menghasilkan software ini. Semua dilakukan sendiri, karena toh tadinya pengennya ada temen-temen yang menolong, tetapi akibat satu dan lain hal malah nggak ada yang menolong. Boro-boro menolong, ngajari bahasa pemrograman aja pada ogah-ogahan….Ya sudah..sinau dewe saja.

Kadang mikir juga, jangan-jangan yang pakai cuma orang kaya yang nggak perduli kerja keras orang lain. Jangan-jangan dimanfaatkan pihak ketiga untuk kepentingannya sendiri. Jangan-jangan model manusia indonesia yang doyan barang gratisan mau cari enaknya sendiri. Tetapi kemudian penulis ditempeleng oleh Allah lewat petunjuknya. Seseorang yang menjadi guru penulis menasihatkan:

“Sungguh ironi jika kamu (saya dalam hal ini) melakukan suatu perbuatan baik tetapi sangat bergantung kepada orang lain yang menerima kebaikan kita. Lihatlah Allah, lihatlah Nabi SAW. Apakah mereka pilih-pilih dalam memberikan sesuatu? Memangnya berapa royalti yang mereka terima dari kitab yang mereka susun bersama? Berapa nilai yang diterima oleh para pahlawan yang merelakan jiwa, raga, dan semua yang mereka miliki bahkan sampai gugur menjadi syuhada demi kemerdekaan Indonesia? Mungkin ketika mereka dibangkitkan sekarang, mereka akan menangis melihat hasil perjuangan mereka hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat. Malah ada yang dijual, dikorupsi, diproyekkan dlsb. Tetapi itu tidak membuat nilai mereka yang gugur sebagai pahlawan menjadi turun. Pahlawan tetaplah pahlawan.Syuhada tetaplah syuhada.Nabi tetaplah Nabi.”

“Mengapa?Karena mereka menemukan peran mereka dalam kehidupan. Dan mereka menjalankan peran mereka sebaik-baiknya. Nah, jika kamu menemukan peran dalam kehidupan ini, apalagi itu merupakan panggilan jiwamu, maka jalankan peran itu sebaik-baiknya. Semuanya nanti akan kamu pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Allah tiada buta atas semua hal yang dilakukan manusia. Pasti ada rejeki padamu.”

Hehe..jadi malu.

Lagian nilai jual apa sih yang ada pada software ini, yang dijual atas dasar pelestarian sesuatu yang beranjak punah? Bukan! Bukan nilai jual tentunya! Tetapi nilai yang dibangun atas dasar kecintaan terhadap tanah air, itu yang nantinya hanya dihargai oleh mereka yang tahu.

Sebarluaskanlah..pasang di blog, facebook, friendster, forum atau apapun yang memungkinkan banyak orang untuk mengaksesnya.

Maka saya tidak terlalu khawatir tentang apapun tentang software ini. Bagi saya, Allah Maha Menghitung rejeki sehingga tidak pernah salah Dia membayar tunai terhadap setiap perbuatan umatnya. Jika nantinya software ini populer dengan banyak versi, ataupun ada pihak yang mengubahnya menjadi lebih baik sehingga yang bersangkutan (penggubah tersebut) populer, pastilah orang akan tetap cari versi original untuk diperbandingkan. Saya tidak khawatir. Justru malah bersyukur jika software ini ini menjadi software populer yang kemudian menjadi ladang amal jariyah insya Allah mengalir kepada kita semua. Allah SWT tidak mungkin dan tidak pernah salah. Gampangnya, jika memang anda tidak mampu atau terpanggil untuk membayarnya, tetap sah Anda manfaatkan dengan akadnya adalah Shodaqoh (entah fisik, fikir maupun jariyah) kepada Anda. Anda cukup menukarnya dengan doa agar kami sekeluarga bisa terus berkarya dan berbuat yang terbaik bagi Indonesia.

Andaikata Anda merasa terpanggil untuk mensupport usaha saya, tentu saja saya tidak menolak. Donasi, silahkan kirim ke rekening: Bank Mandiri cabang MM UGM No. 137-00-0628060-2 a.n. FERIAWAN AGUNG NUGROHO. Atau yang terpenting, saya mohon doanya agar kami sekeluarga bisa tetap berkarya, sehat dan sejahtera dalam lindungan Allah SWT.

Tanpa berniat mengkomersialisasikan, kami juga meminta kepada Anda untuk memberikan jalan kiranya ada pihak-pihak yang bisa memberi donasi atas usaha kami ini. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita.

Semoga Allah memberikan balasan yang sesuai atas apa yang Anda lakukan.

Maka saya tidak terlalu khawatir tentang apapun tentang software ini. Bagi saya, Allah Maha Menghitung rejeki sehingga tidak pernah salah Dia membayar tunai terhadap setiap perbuatan umatnya. Jika nantinya software ini populer dengan banyak versi, ataupun ada pihak yang mengubahnya menjadi lebih baik sehingga yang bersangkutan (penggubah tersebut) populer, pastilah orang akan tetap cari versi original untuk diperbandingkan. Saya tidak khawatir. Justru malah bersyukur jika software ini ini menjadi software populer yang kemudian menjadi ladang amal jariyah insya Allah mengalir kepada kita semua. Allah SWT tidak mungkin dan tidak pernah salah. Gampangnya, jika memang anda tidak mampu atau terpanggil untuk membayarnya, tetap sah Anda manfaatkan dengan akadnya adalah Shodaqoh (entah fisik, fikir maupun jariyah) kepada Anda. Anda cukup menukarnya dengan doa agar kami sekeluarga bisa terus berkarya dan berbuat yang terbaik bagi Indonesia.

Andaikata Anda merasa terpanggil untuk mensupport usaha saya, tentu saja saya tidak menolak. Donasi, silahkan kirim ke rekening: Bank Mandiri cabang MM UGM No. 137-00-0628060-2 a.n. FERIAWAN AGUNG NUGROHO. Atau yang terpenting, saya mohon doanya agar kami sekeluarga bisa tetap berkarya, sehat dan sejahtera dalam lindungan Allah SWT.

Tanpa berniat mengkomersialisasikan, kami juga meminta kepada Anda untuk memberikan jalan kiranya ada pihak-pihak yang bisa memberi donasi atas usaha kami ini. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita.

Semoga Allah memberikan balasan yang sesuai atas apa yang Anda lakukan.

Cara Instalasi Software:

1. Setelah didownload. Ekstraklah program di sembarang folder di komputer anda. Akan ada 3 file terpisah:kAMUS JAWA.Cab, Setup.LST dan Setup.exe

2. Klik Setup.exe sebagaimana ditunjukkan oleh gambar di bawan ini:

Klik dua kali di bagian setup.exe

4. Lalu muncullah penampakan instalasi dengan gambar biru di layar dan kemudian muncul opsi seperti ini:

tugas anda adalah mengklik yang ditandai merah. Itulan icon install (gambar kompute dan kardus).

5.Setelah itu akan muncul permintaan yang kurang lebih artinya: “mau diinstal di folder mana?” sebagaimana dilihat di bawah ini:

Tugas anda adalah klik bagian continue (yang dilingkari merah)

6. Biasanya sih langsung kelar sampai akhir dan sukses. Tetapi jika suatu saat anda mendapati seperti ini:

Maka janganlah anda gundah gulana ataupun khawatir. Cukup klik ignore dan percayalah tidak ada apa-apa yang perlu dirisaukan. Di sini disebutkan bahwa instalasi software yang dibawa kamus ini nyata-nyata sudah ditemukan di komputer anda dan sedang digunakan, sehingga gak perlu ditambah instalasinya.

7. Setelah itu barangkali akan muncul sesudahnya seperti ini:

Lakukan klik YES.

8. Setelah itu anda cukup melakukan klik IGNORE pada beberapa kejadian serupa sampai kemudian instalasi selesai. Jika sukses, di komputer anda sudah terinstall software ini:

Nah selanjutnya pelajari di help file untuk menjalankan program ini:

DOWNLOAD

1. download via box.net silahkan klik di sini

2. download via server ugm silahkan klik di sini

3. download via kewlshare silahkan klik di sini

OK silahkan menikmati. Semoga tetap jaya Indonesia.

Salam..

Feriawan..

3 responses so far

Sep 03 2009

teroriscinta

Download Kamus Akronim dan Istilah v.1 freeware

Filed under Download, Idealism

Ini adalah kamus yang berisi data istilah dan akronim yang biasa ditemui di berita-berita, tulisan akademis, ataupun sumber-sumber lainnya di Indonesia. Sebenarnya databasenya sudah banyak beredar baik di blog-blog ataupun di forum diskusi. Tetapi nggak ada salahnya kalau saya compile agar bisa dinikmat dengan mudah.

Silahkan klik untuk download di box.net

Silahkan klik untuk download di kitaupload.com

Silahkan klik untuk download di ziddu.com

Silahkan klik untuk download di server ugm

No responses yet

Sep 03 2009

teroriscinta

Download kamus Indonesia-Sunda (kebalikan dari Sunda-Indonesia) V.2.1

Filed under Download, IT, Idealism

Sekedar melengkapi kamus yang di upload sebelumnya. Maaf, saya belum bisa buat sistem yang terjemahannya bolak-balik, jadi mending dijadikan dua aja. Berikut interfacenya:

Aturan penyebarluasan freeware ini, penggandaan, perubahan dan lain sebagainnya, sama dengan kamus-kamus daerah yang lain. Silahkan dinikmati…

Silahkan klik di sini untuk download dari server ugm

silahkan klik di sini untuk download dari kitaupload.com

silahkan klik di sini untuk download dari box.net

silahkan klik di sini untuk download dari ziddu

No responses yet

Sep 02 2009

teroriscinta

Download Kamus Sunda Indonesia Versi 2.0

Filed under Download, Idealism

Alhamdulillah, sekarang sudah jadi kamus sunda-indonesia versi 2.0. databasenya emang masih jauh dari cukup karena belum ada sumber database yang lumayan valid. Andaisaja ada temen-temen yang mau ngirim database, tentunya bakal lebih lengkap lagi. Tapi daripada nggak ada, mending saya buat dulu aja.

Makasih kepada sumber yang tercantum dalam help file kamus ini atas data istilah yang anda kirimkan. Ukuran kamus ini cukup kecil, hanya 500an KB, mudah digunakan, bisa ditambah dan didelete databasenya, bisa diedit, boleh diutak atik, disebarluaskan, terserah lah…asal jangan diaku-aku aja lah. Selamat menikmati. Tetap jaya Indonesia…

Silahkan klik di sini untuk download dari Box.net

Silahkan klik di sini untuk download dari Ziddu.com

Silahkan klik di sini untuk download dari Kitaupload.com

Silahkan klik di sini untuk download dari server ugm

One response so far

Aug 31 2009

teroriscinta

Download Kamus Jawa Indonesia versi 2.1

Filed under Download, IT

Pengantar

Alhamdulillah, tidak ada yang bisa saya ucapkan kecuali kesyukuran yang amat sangat karena blog ini sudah menjebol angka pengunjung 60.000. Di sisi lain, saya masih diberi kesempatan untuk belajar membuat aplikasi berbasis visual basic. Dan hasilnya, sebuah software kamus yang diperbarui, yang dijamin bebas virus(tidak seperti yang kemarin ketika beberapa kamus terindikasi mengandung virus).

Dibalik cerita, sejujurnya banyak diantara teman-teman saya yang sangat piawai, sangat pakar dalam membuat aplikasi sepertini. Bagi mereka, aplikasi seperti ini remeh temeh lah. Berkali dan berkali saya mencoba memohon diantara mereka untuk belajar, agar bisa melanjutkan cita-cita saya membuat kamus dari bahasa-bahasa di nusantara. Tetapi mungkin karena kita hidup di Indonesia sehingga kata-kata: “Saya ingin belajar” yang saya ucapkan dan mohonkan kepada mereka untuk mengajari saya, seolah menjadi klise dan hanya angin lalu. Tidak ada yang sungguh-sungguh memperdulikan.

Saya juga mencoba memohon kepada mereka untuk membuatkan aplikasi macam ini, sehingga dikolaborasikan kemampuan kita, bahwa mereka yang membuat software dan saya yang mengumpulkan database. Tetapi janji tinggalah janji karena toh diantara mereka yang berjanji, tidak berkesempatan untuk memberikan software yang saya masukkan.

Ya sudah.

Kadang saya berprasangka, apakah teman-teman sudah demikian terjebak hidup di alam yang serba kapitalistik ini berarti harus memiliki modal rupiah demi mendalami suatu ilmu? Apakah tidak cukup bahwa Allah menjanjikan surga bagi mereka yang memberikan ilmu kepada orang-orang yang membutuhkan dan memberikan kemanfaatan luas?

Ya sudah. Sekali lagi.

Menunggu dan menyesali tentunya tidak menyelesaikan masalah. Apalagi menyalahkan orang lain, malah menambah masalah.

Akhirnya toh harus saya sendiri yang berusaha untuk mewujudkan apa yang saya cita-citakan. Berbulan-bulan mencari referensi di internet, berbulan-bulan memahami satu persatu coding, simbol dan source-source dan dari berbagai aplikasi mulai dari php, access, c++, net bean, visual basic, foxpro dan berbagai lainnya. Semua dilakukan di sela-sela kerja, tengah malam ataupun saat senggang. Dan gagal..gagal..gagal terus. Rumusan kode itu semacam rumus kimia yang butuh imajinasi ekstra dalam menerjemahkannya. Pusing!!!

Sampai suatu ketika, Allah menunjukkan kuasanya dengan memberikan satu file source code yang alhamdulillah bisa saya terjemahkan dan saya utak-atik. Rasanya sungguh luar biasa.

Kawan-kawan, di sini saya tidak hendak berlaku sombong. Beberapa waktu dulu saya pernah menuliskan cerpen berjudul Jago Dengklang sebagai gambaran bahwa siapapun yang tidak dianggap, harus berusaha keras merubah diri untuk membuktikan bahwa dia benar-benar bernilai. Harus!!!

Dan memang saya hidup di tengah bangsa bernama Indonesia yang dari waktu ke waktu manusianya selalu kalah oleh realitas. Miskin idealitas. Kita terbiasa menjadi bangsa konsumen dan pengemis, dan tidak pernah bermimpi untuk menjadi bangsa produsen dan pemberi. Kita terlalu lemah untuk mengatakan ‘tidak berutang’ kepada bangsa lain. Kita terlalu naif untuk bicara bahwa cita-cita dan semangat bukanlah retorika omong kosong untuk membuat kita menjadi manusia bernilai. Dan akhirnya kita menjadi bangsa yang mati di tengah kehidupan zaman.

Kenapa tidak berbuat?

Lewat tulisan ini, dengan segenap kerendahan hati, saya mengajak anda-anda untuk tidak hanya berfikir bahwa kita tidak bisa. KIta pasti bisa selama kita berpikir bahwa kita bisa (nggak mesti “bersama kita bisa”..kayak iklan partai=lebih mirip”bersama kita gila”). Siapa yang tahu batas kemampuan kita? Jika kemampuan seseorang biasa diukur dari hasil kerjanya. Maka, yang mengecewakan, adalah orang yang tak mengerjakan sesuatu sesuai kemampuannya. Yang hebat, adalah orang yang mengerjakan sesuatu melebihi kemampuannya. Maka lakukanlah apa yang Anda anggap, atau dianggap orang tidak mungkin. Gagal itu biasa, lebih baik gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali, tetapi jika berhasil, tentu saja itu menjadi hal yang luar biasa. Dan semakin kita sering melakukan hal-hal luar biasa, tentunya kita bisa membalik logika bahwa kita adalah bangsa yang biasa berhasil dan tidak boleh ada kata gagal! Sekali lagi: tidak boleh ada kata gagal! Apalagi bersikap pengecut dengan bilang tidak mampu sebelum mencoba.

Dan, tentunya bukan hanya itu. Lebih jauh lagi saya mengajak diantara kita untuk mau berbagi. Jangan mikir komersil melulu bahwa kita sudah susah payah menciptakan sesuatu dan kemudian harus dijual ataupun harus laku. Ada wilayah-wilayah tertentu dimana anda memang harus membelanjakan kemampuan Anda demi rupiah, demi nafkah keluarga, demi hadiah, penghargaan dan “komersialisasi definisi sukses” ala kapitalistik. Tetapi di sekitar kita jangan lupa, ada amanah-amanah lain yang tidak pernah menjanjikan sepeser rupiah pun. Ada masyarakat miskin yang lepas dari tanggungjawab negara ketika mereka sakit, terbelakang dan kelaparan, Ada nilai-nilai luhur budaya bangsa yang butuh dilestarikan ketika lepas dari tanggungjawab negara dan sama sekali tidak laku dijual di tengah generasi dugem ini. Ada semangat kegotongroyongan untuk ikhlas berbagi diantara kita karena memang diantara kita butuh untuk saling menolong saat uang sama-sama tidak punya, dan negara lebih sibuk bersenggama dengan modal daripada melindungi masyarakatnya. Ada hutang kita kepada para pahlawan, pada syuhada, guru dan orang-orang yang berjasa membuat kita menjadi cerdas dan hidup di tanah merdeka ini, saat negara tidak memberikan kesejahteraan kepada mereka. Di sanalah ada ruang dan ada peran  kita ditunggu untuk berbuat. Tidak ada yang pernah menjanjikan rupiah, kecuali sebuah keyakinan bahwa Allah Maha Menghitung dan Maha Pemurah, Dialah Tuhan yang selalu bersama dengan doa orang-orang tertindas.

Maka, meskipun sederhana, hanya software kamus, tetapi ini bagian dari kecintaan saya kepada tanah air. Di tengah keprihatikan karena banyak aset bangsa disia-siakan oleh bangsa sendiri, dan dicomot bangsa lain untuk kepentikan komersial mereka, barangkali lewat secuil karya ini bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi bangsa dan negara.

Selamat menggunakan.

Penjelasan Software

Untuk software ini kayaknya lebih enak dijelaskan dengan gambar ini:

Mudah kok menggunakannya. Ukuran file cukup kecil: hanya 614 kb.Bisa ditambah dan dikurangi (entri data) kosakata di dalamnya, boleh disebarluaskan. Bersifat freeware.

Silahkan klik di sini untuk download di ziddu

Silahkan klik di sini untuk download dari box.net

Silahkan klik di sini untuk download dari server UGM

Silahkan klik di sini untuk download dari hostinglokal.com

Demkian, silahkan email saya jika ada yang missing link.

Andaikata Anda merasa terpanggil untuk mensupport usaha saya, tentu saja saya tidak menolak. Donasi, silahkan kirim ke rekening: Bank Mandiri cabang MM UGM No. 137-00-0628060-2 a.n. FERIAWAN AGUNG NUGROHO. Atau yang terpenting, saya mohon doanya agar kami sekeluarga bisa tetap berkarya, sehat dan sejahtera dalam lindungan Allah SWT. Semoga Allah memberikan balasan yang sesuai atas apa yang Anda lakukan.

Tetap Jaya Indonesia!!!

4 responses so far

Aug 05 2009

teroriscinta

DOWNLOAD Dongeng Anak Bernuansa Nasionalisme Dalam Rangka HUT Proklamasi ke 64–”Menolong Garuda”

Filed under Download, Idealism, cerpen

Lama tidak upload, karena memang menggarap satu kerja besar disamping kerjaan di kantor yang meghimpit detik demi detik.

Kali ini saya menyajikan sebuah dongeng tentang kepahlawanan, nasionalisme ataupun rasa cinta tanah air. Judulnya adalah “Dongeng Anak Negeri-Menolong Garuda”, dengan memanfaatkan momentum HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 64. Disajikan dalam format PDF karena lebih ringan dan lebih portable untuk didownload. Maunya sih dibuat dalam bentuk flash, tetapi karena nggak sempet ya biarlah sementara ini memakai pdf dulu lah. Silahkan didownload untuk acara repertoar 17an di kampung anda, ataupun disajikan untuk anda, diprint atau mungkin dicerita ulangkan. Monggo, silahkan, lah.

Nah, selamat Menikmati. Semoga bermanfaat.

DOWNLOAD LINK

Silahkan saja download di sini (box.net),atau di sini(kitaupload.com)atau di sini (scribd)

Sinopsis

Penduduk nusantara hidup dalam duka karena kondisi tanah dan wilayah yang tandus, gersang, dan tidak menghasilkan. Sampai suatu ketika datanglah seekor burung yang besar. Burung itu jatuh dari langit dan rupanya sedang dikejar-kejar Raksasa Buto Penjajah. Penduduk yang melihat burung itu menderita, tidak ingin menyerahkan Burung tersebut kepada Raksasa Buto Penjajah. Maka, mereka bersatu mempertahankannya dari keserakahan Raksasa Buto Penjajah. Nah, bagaimana selanjutnya?

DIBALIK PENTAS

Dongeng ini mungkin tidak pernah menjadi booming ataupun legenda semacam karya besar Hans Christian Andersen. Tetapi sejarah mencatat bahwa sebuah karya akan dihargai oleh banyak orang jika kita sendiri mampu menghargainya dan mensyukurinya. Untuk itulah tulisan ini dibuat. Kalau di dalam DVD film ada behind the scene, maka saya coba menuturkan segala sesuatu yang terjadi di balik “Dongeng Anak Negeri –Menolong Garuda”—ini agar proses di balik pentas pembuatan karya ini bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang memang merasa perlu tahu dan bisa jadi mendapat gagasan besar, ide besar untuk membuat karya yang lebih baik dari apa yang telah saya lakukan. Tentu saja penghargaan tersendiri bagi saya jika hal itu terjadi. Ceritanya, saya sendiri terkesan, atau merinding, dengan penuturan Taufiq Ismail dalam majalah sastra Horizon ketika menggarap lagu Ketika Tangan dan Kaki Bicara yang kemudian dinyanyikan oleh Almarhum Chrisye. Saya menjadi inspired membaca bahwa berapa Chrisye menjadi punya pengalaman batin dan traumatis saat menyanyikan lirik Ketika Tangan dan Kaki Bicara yang kemudian hanya sekali..hanya sekali dalam hidupnya, dia nyanyikan. Subhanallah… Dalam hal ini, ternyata menceritakan proses pun bisa jadi sangat penting dan bernilai, bahkan mungkin melebihi hasil yang disajikan kepada penikmat seni.

Berawal dari comment sederhana di Facebook, seorang teman menuliskan (maaf, saya tidak menuliskan siapa namanya karena barangkali yang bersangkutan tidak berkenan): “Buku2 cerita anak yg d distibusikan lewat playgroup tokoh2ny bnyk yg pake peri dan kurcaci… tokoh2 imajiner untuk anak indonesia siapa ya?” Saya jadi merenung, agak jauh dari persoalan malah. Benar…kita kurang dongeng untuk anak kita. Proses mendongeng adalah menyampaikan nilai dalam bahasa renyak, serenyah snack, yang bisa dinikmati oleh anak-anak. Bisa jadi kita sendiri yang tidak bisa menceritakan dongeng karena kemampuan kita bercerita memang buruk, tetapi bisa jadi juga karena kita menganggap dongeng adalah sesuatu yang benar-benar imajiner sehingga nilai yang hendak disampaikan itu pun menjadi imajiner. Mungkin karena kehidupan di negeri kita dewasa ini jauh dari nilai-nilai luhur, sehingga berbicara kepahlawanan, berbicara tentang pengorbanan, berbicara tentang kepemimpinan, kerjasama, gotong royong, kekeluargaan, keadilan menjadi sesuatu yang imajiner juga. Kenyataan telah mempengaruhi imaninasi kita sehingga otak menjadi mandul untuk menceritakan nilai luhur kepada anak-anak kita, sementara, nilai agama seolah menjadi terlalu suci dan melangit untuk dibumikan. Dari sinilah saya tertantang: kenapa kita nggak mimpi tentang sesuatu yang ideal, dan bagaimana impian ini digarap sedemikian rupa sehingga orang lain pengen, gandrung, kangen, rindu ataupun addicted untuk bisa menwujudkannya menjadi kenyataan. Dan bagaimana kemudian hal itu bisa tersampai kepada anak-anak.

Well, saat tulisan ini dibuat, adalah bulan Agustus 2009 dimana akan diperingati HUT Proklamasi RI ke 64. Saat itu kemudian di Facebook saya tuliskan: mencari ide tentang nasionalisme untuk 17an. antara menggali sejarah dan bermimpi tentang masa depan. lalu menyajikannya dalam sebuah dongengan anak. pertanyaanya: apa sudah kering jiwaku? kok nggak ketemu-ketemu juga ya?

Lalu, setelah ngalor-ngidul merenung, entah darimana asalnya kemudian Allah SWT memberikan saya sebersit cahaya..cling..dan kemudian seolah ada gagasan untuk menuliskan ini. Saya tidak tahu persis apa sumbernya menduga, beberapa referensi yang inspiring di otak saya berasal dari dongeng Animal Farm, karya George Orwell, Jonathan Livingstone Camar, karya Richard Bach, Spongebob Squarepant pada kisah Spongebob BC karya Stephen Hillenburg, dan kemudian yang paling penting adalah diskusi Rasulullah SAW dengan prajuritnya pasca perang Badar:

“Sesungguhnya, kita baru kembali dari sebuah perang kecil untuk memerangi perang yang lebih besar.” Perkataannya mengejutkan para sahabat sehingga salah seorang pun bertanya, “Perang lebih besar apa yang Engkau maksud, ya Rasulullah?” Dan Rasulullah menjawab, “perang melawan hawa nafsu.”

Yak. Mungkin kita bisa bicara banyak tentang kalahnya nilai dengan nafsu. Lihat televisi yang full sampah, saya kira bisa dijadikan indikasi betapa perang di Indonesia pasca proklamasi jauh lebih besar daripada perang kemerdekaan itu sendiri. Mungkin, jika saja para pahlawan yang dulu berjuang untuk Indonesia itu hidup kembali, betapa mereka akan menangis darah.

OK, lanjut….

Dari sana kemudian mengalirlah tulisan tangan saya yang kayak ceker ayam sebagaimana tergores di kertas ini:

Kemudian dari naskah itu saya ketik di komputer menjadi draft awal yang demikian ini:

Naskah ini memang asyik jika dibacakan oleh orang-orang yang membaca repertoar, katakanlah bagi mereka yang hendak menyajikan dongeng anak pada perayaan 17an. Tetapi saya pikir, kayaknya sangat muspro jika modusnya hanya demi 17an. Kalo momentumnya sih boleh saja, tetapi justru kemanfaatannya diusakahan untuk bisa bertahan lama. Maka, demi mempercantik dan mendekatkan dengan dunia anak-anak modern yang dekat dengan komputer, saya tambahkan ilustrasi sekadarnya. Beberapa ilustrasi tangan itu kemudian saya scan menjadi beberapa, seperti ini:

Lalu, kenapa tidak sekalian saja formatnya menjadi powerpoint agar, kali-kali, misalkan saja ada Bapak Ibu Guru hendak memberikan presentasi kepada siswa, atau pada waktu 17an ingin menyajikan dongeng menggunakan projector LCD kan lebih dahsyat, daripada sibuk cari-cari bajakan Film Garuda di Dadaku, memutar dagelan yang jauh dari semagat malam 17an, atau malah nonton Film yang gak jelas sama sekali, kenapa nggak puter aja kisah ini?

Maka jadilah format powerpoint yang kemudian diupload secara berjangka karena kesibukan di sela-sela kerja yang menyita waktu. Latar belakang saya buat dari penggubahan wallpaper karya Arie Darusman yang diuploadnya di deviant-art.com

Jadinya, lembur-lembur malem hari demi sebuah cita-cita di luar urusan perut.

Nantinya, mimpinya, akan dibuat versi Flash ataupun MPEG sekalian dengan dubbing ataupun narasi suara saya sendiri (hehe…dah lama nggak ndongeng sih), full dengan muik pengiring dan lagu-lagu perjuangan yang menjadi suara latar yang menghidupkan cerita. Tapi, karena komputer dan mic, entah masalah hardware atau software lagi trouble sehingga nggak konek, niat ini saya batalkan sementara waktu. L

Tentang materi cerita, kenapa dipilih garuda, ya karena memang burung itu yang paling populer, tetapi anak-anak, atau mungkin anda, tidak pernah terinspirasi. Kok nggak cari binatang indonesia yang lain, bekantan, beruk, siamang, munyuk, monyet, kingkong, baboon dan sejenisnya? Mungkin mereka lebih cerdas. Kok nggak onta yang , barangkali, dinilai lebih islami karena menjadi tunggangan Nabi SAW? Kok nggak kancil..ah..sudahlah..terima saja dulu. Tantangannya, menurut saya, adalah memberi nilai plus kepada karakter yang sudah ada tetapi kosong makna, itu jauh lebih menantang daripada membuat karakter baru.

Kok yang dipilih Raksasa Buto Penjajah dengan sosok yang gemuk mengerikan dan urakan? Kok nggak cukup Raksasa Serakah saja dll? Sebagaimana yang pernah dibincangkan bersama dua orang teman di FB. Ya….. Bentuk raksasa itu diadaptasi dari wayang jawa. Ya kalo raksasanya cakil yang kurus kering kurang gizi nanti kan nggak seru. Bagus sih, kalau cakil menandakan orang lemah yang sombong, tetapi kalau merujuk pada penjajahan, mending raksasanya bergaya monster aja.

Cerita ini dibuat dengan setting masyarakat komunal, karakter masyarakat dengan karakteristik pekerjaan yang berbeda-beda. Pada konteks ini adalah Petani dan Nelayan yang menonjol, yah..itung-itung penghargaan bagi mereka yang secara jumlah adalah kaum mayoritas tetapi secara hitungan perhatian kita kepada mereka, mereka adalah kelompok yang termarjinalkan dari sisi apapun.

Saya menganggap cerita ini adalah cerita terbuka yang boleh diadaptasi, dirubah ataupun dikontekstualisasikan dengan situasi kondisi yang terbaik menurut Anda. Katakanlah lebih bagus kalau penduduknya didasarkan pada perbedaan suku, perbedaan umur, perbedaan agama dll, silahkan saja. Musuhnya tidak raksasa tetapi diganti dengan pasukan, misalkan: Satpol Proyek, atau Telur Busuk dll. Silahkan saja. Atau si Pertiwi diganti dengan Ibu Pertiwi, biar lebih dewasa, ataupun malah ditiadakan karena cenderung tahyul. Monggo saja. Perubahan apapun sangat dimungkinkan dengan catatan tidak membelokkan nilai utama ataupun arus utama yang menjadi inti dalam dongeng ini. Seberapakah batasannya? Terserah pada kedewasaan Anda untuk menilainya.

Permintaan saya, dimanapun Anda mempertunjukkan cerita ini, saya sangat berterima kasih jika Anda tetap memejengkan nama saya, disamping nama anda sebagai penyadur ataupun penggubah jika Anda memang hendak menggubahnya. Bukannya sok populer, tetapi biarlah saya menjadi bagian dari kritik, saran dan masukan yang membangun diri saya seandainya ada pihak-pihak yang mau memberikannya.

Jika mungkin ada pihak-pihak yang hendak menerbitkan cerita ini menjadi buku, saya harap untuk memahami etika penerbitan dengan menghargai karya cipta sebaik-baiknya sebagaimana yang ada dalam etika dan hukum yang mengatur tentang usaha penerbitan. Meskipun cerita ini adalah cerita tanpa gagasan menarik laba serupiah pun, tetapi usaha komersialisasi terhadap dongeng ini tentunya harus sesuai dengan hukum yang berlaku.

Saya menggarisbawahi, bukan cerita ataupun materi yang menjadi keutamaan di dalam dongeng ini, tetapi nilai-nilai yang hendak saya tawarkan di dalamnya itulah yang utama. Maka saya tidak terlalu khawatir mengenai penyebarluasan cerita ini ke manapun, ataupun penggubahan, sehingga mungkin jauh dari yang orisinil dari yang saya buat di sini. Atau bahkan usaha pemalsuan sepihak oleh mereka yang tidak bertanggungjawab, memetik keuntungan ataupun rupiah tanpa sepengetahuan saya. Bagi saya, Allah Maha Menghitung rejeki sehingga tidak pernah salah Dia membayar tunai terhadap setiap perbuatan umatnya. Jika nantinya cerita ini populer dengan banyak versi, ataupun ada pihak yang mengubahnya menjadi lebih baik sehingga yang bersangkutan (penggubah tersebut) populer, pastilah orang akan tetap cari versi original untuk diperbandingkan. Saya tidak khawatir. Justru malah bersyukur jika dongeng ini menjadi dongeng populer yang kemudian menjadi bahan cerita dari mulut ke mulut, amal jariyah insya Allah mengalir kepada kita semua. Allah SWT tidak mungkin dan tidak pernah salah.

Andaikata Anda merasa terpanggil untuk mensupport usaha saya, tentu saja saya tidak menolak. Donasi, silahkan kirim ke rekening: Bank Mandiri cabang MM UGM No. 137-00-0628060-2 a.n. FERIAWAN AGUNG NUGROHO. Atau yang terpenting, saya mohon doanya agar kami sekeluarga bisa tetap berkarya, sehat dan sejahtera dalam lindungan Allah SWT. Semoga Allah memberikan balasan yang sesuai atas apa yang Anda lakukan.

Terima kasih atas perhatiannya,

Tetaplah menjadi bintang di langit.

Hormat Saya,

Feriawan Agung Nugroho, S.Sos

www.teroriscinta.blog.friendster.com

ferrybm@yahoo.com

2 responses so far

Jul 02 2009

teroriscinta

RUU Rahasia Negara yang Mengancam Kebebasan Publik

Filed under Idealism, berita

Suatu hari ada orang berada di depan istana kepresidenan Rusia di masa Stalin. dia berteriak,”Stalin Anjing”. Segeralah polisi menangkap orang tersebut. Pengadilan menjatuhinya atas dua dakwaan. Pertama, penghinaan negara…dan kedua…..membongkar rahasia negara. (Mati Ketawa Cara Rusia)

.
.
Hari Sabtu, 27 Juli 2009 kemarin di Hotel Cakra Kusuma, Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Yogyakarta bersama dengan Yayasan SET (Sains, Estetika & Teknologi) mengundang IDEA (Institute for Development and Economic Analysis) Yogyakarta untuk menjadi partisipan dalam diskusi yang mengupas soal rencana diundangkannya RUU Rahasia Negara.

Kebetulan saya yang pas tidak ada agenda urgent datang atas nama IDEA. Ada 4 pemateri yang dihadirkan di situ, yaitu Ketua Dewan Pers Pof.Dr Ichlasul Amal, Joko Susilo anggota Komisi I DPR RI dan Agus Sudibyo dari Yayasan SET Jakarta merangkap Aktifis Koalisi Untuk Kebebasan Pers Indonesia, Irsyad Thamrin Direktur LBH Yogyakarta beserta sejumlah aktifis dari LSM dan sejumlah pimpinan partai politik di daerah.

Apa sih UU Rahasia Negara ini? Secara garis besar, UU ini mengatur hal-hal (data, berkas, dokumen, informasi, benda atau aktifitas) yang dirasa negara tidak boleh diketahui oleh masyarakat luas dengan alasa membahayakan negara jika jatuh ke tangan yang salah. UU ini mengatur tentang siapa yang berhak menetapkan rahasia negara, sifat dari kerahasiaan negara, bentuk dan macam rahasia negara sampai dengan sanksi bagi siapapun yang melanggarnya. Selengkapnya dokumen ini bisa diakses di sini.

Mengapa AJI Yogyakarta dan Yayasan SET merasa perlu untuk membahas RUU ini? Aji merasa bahwa RUU ini mengarah kepada indikasi kesewenang-wenangan aparat penyelenggara negara atas kebebasan publik (masyarakat dan atau pers) dalam mengakses informasi yang mestinya menjadi hak publik. Kesewenang-wenangan ini diindikasikan dengan tafsir sepihak pada pasal 1 ayat 1 RUU ini yang memberikan kewenangan penyelenggara negara atas tafsir sepihak rahasia negara, sehingga dokumen-dokumen yang semestinya penting bagi masyarakat untuk mengetahuinya bisa jadi diklaim sepihak sebagai rahasia negara. Katakanlah, sesiapapun mendapat informasi atau data kaitannya dengan penyelewengan, ketidakbecusan, atau bahkan korupsi yang dilakukan oleh penyelenggara negara, bisa jadi alih-alih rahasia negara, negara mangkir dan malah menjerat pihak-pihak yang mendapat informasi ini. AJi semakin menajamkan kekhawatiran bahwa pada pasal 11 ayat 2, pasal 13 ayat 2 yang memberikan kewenangan kepada lembaga negara (bisa jadi Pemerintah pusat sampai dengan kelurahan) untuk menetapkan perihal sesuatu yang dianggap sebagai rahasia negara.

Kekhawatiran kedua yang dirasakan AJI, bahwa konsekuensi pelanggaran atas RUU ini nantinya selama-lamanya adalah 20 tahun penjara dan denda sebanyak-banyaknya 1 miliar rupiah bagi setiap orang yang dianggap menyebarluaskan informasi rahasia negara.

Untuk itulah AJI yogyakarta menyatakan sikap yang intinya adalah menolak keberadaan RUU ini. Selengkapnya pernyataan sikap tersebut dapat dilihat di sini.

Agus SUdibyo dari Aktivis Koalisi Untuk Kebebasan Informasi, menyatakan bahwa selama ini pemerintah sudah demikian tertutup dan main klaim terhadap berbagai macam dokumen publik seperti APBD/N, Kebijakan, Rencana Kebijakan, Rencana Proyek, Rencana Kunjungan, Sistem Penggajian, Belanja Rutin, AKtivitas Internal, Sidang-sidang DPR-D, Hutang Negara, dan lain sebagainya. Ketika RUU ini diterapkan, maka siapapun lembaga negara bisa sah untuk menyatakan sebuah dokumen menjadi rahasia. Ada konstruk berpikir yang gagal ketika UU ini dibuat, yakni konteks kerahasiaan yang ada justru penekanannya ataupun alasan yang mendasarinya adalah pembatasan atas kebebasan pers. Negara justru tidak memuat aturan berkaitan dengan konteks intelejen internasional, katakanlah dikatakan Agus di sini adalah kemampuan pihak asing untuk membobol sistem informasi rahasia negara. Negara juga tidak mengakui ataupun tidak beralasan manakala kesalahan justru dikarenakan keterbatasan kapasitas dan teknologi negara dalam melindungi dokumen-dokumennya.

Selain itu, Agus juga membandingkan dengan beberapa negara yang melakukan listing dokumen apa saja yang tergolong sebagai rahasia negara. Bisa jadi di negara lain akan ditetapkan sejumlah 200 jenis dokumen yang tidak bisa diakses publik. Tetapi dalam RUU ini, yang terjadi bukanlah listing dokumen, tetapi kategorikal murni.Artinya, dimungkinkan adanya klaim yang berbeda atas dokumen yang sama sejauh klaim itu dinyatakan oleh lembaga negara. Maka, Agus menyatakan bahwa RUU ini potensial menjadi RUU karet ataupun sumir untuk dengan bebas ditafsirkan oleh siapapun penyelenggara negara. Selengkapnya makalah dan presentasi agus bisa dilihat di sini(makalah) dan di sini (presentasi).
Muhammad Irsyad dari LBH Yogyakarta mencatat bahwa pers akan mendapat pukulan paling keras atas pemberlakukan RUU ini. selengkapnya dapat dilihat di sini.

Ichlasul Amal melihat banyak hal yang harus dicermati dalam penetapan rahasia negara. Kategori rahasia negara yang dibagi atas sangat rahasia, rahasia dan konfidensial, sangat tidak jelas dasarnya dan sangat blunder tujuannya. APa yang membedakan dari ketiganya? Bukankah intinya adalah sama-sama rahasia?
Menjawab tekanan dari AJI dan peserta diskusi yang mengarah pada penolakan RUU Rahasia Negara ini, Joko Susilo, anggota komisi I DPR RI menyebutkan dari proses pembahasan RUU Rahasia Negara masih ada 170 daftar isian masalah yang tersisa untuk dibahas, tetapi hampir tidak mungkin untuk dibatalkan ataupun ditolak.

Jika tekanan sipil menguat, diyakini proses pembahasan RUU Rahasia Negara bisa ditunda, meski pemerintah tetap bisa saja memaksakan DPR segera menyelesaikan pembahasan dengan cara potong kompas untuk proses pembahasan di Panitia Kerja (Panja) DPR. Terutama untuk mengintensifkan pembahasan daftar isian masalah (DIM) yang tersisa.berita selengkapnya dapat dilihat di sini.

3 responses so far

Jun 26 2009

teroriscinta

Terima Kasih Untuk Partai-Partai Kecil Indonesia

Filed under Idealism

Cerita ini saya dedikasikan sebagai penghargaan untuk partai-partai kecil yang sudah mau tampil di Pemilu, dan sedikit gundah untuk partai-partai besar yang sudah mengkhianati suara rakyat.

Di sebuah daerah, ada seseorang yang selalu gagal maju jadi kepala desa. Namanya Mbah Panjul. Entah sudah berapa lama dia maju jadi kades, karena konon semenjak anak-anak usia saya lahir, beliau sudah terbiasa jadi kandidat….dan gagal.

Cerita tentang majunya dia menjadi kades sungguh sebuah cerita yang tak menarik. Dia selalu pidato dengan kertas yang itu-itu saja, isi pidato yang itu-itu saja, dan juga Sawo…sawo adalah lambang dia maju kades..yang itu itu saja..

Mbah Panjul miskin, oleh sebab itu tidak punya dana besar untuk kampanye dan menyebarkan upeti kepada masyarakat. Dia juga tidak pandai pidato, kecuali menyuarakan bahwa gotong royong di desa perlu ditingkatkan agar semua orang sejahtera. Itu lah kurang lebih…Dengan biaya minim, bagaimana bisa dia maju kader? Yah..lagi-lagi panitia menyebutnya sebagai pupuk bawang. Penggembira.

Apakah Mbah Panjul tidak berstrategi untuk menang? Karena toh dari dulu bukannya suaranya naik, malah turun karena yang milih ya orang-orang seumurnya yang beberapa diantaranya malah sudah meninggal dan tidak bisa ikut pilkades.

“Saya ini cuma menyuarakan suara-suara orang tua semacam saya. Terkadang, kemenangan bukan yang utama, tetapi bahwa saya bisa maju ke pilkades untuk mewakili orang -orang seperti saya…ya itu sudah cukup.”

Jawaban ini terlalu polos.

Tetapi bersyukurlah bahwa masyarakat desa itu , dengan adanya Mbah Panjul, sudah memahami demokrasi sebagai bagian dari keterwakilan suara minoritas. Beda dengan di Indonesia, Mbah Panjul tak berkoalisi dengan tokoh yang lebih berpengaruh.

Harapan, walaupun itu kecil, harus selalu ada dalam ruang demokrasi. Koalisi barangkali langkah kompromistis bagi para politisi. Tetapi bagi negarawan ataupun wakil rakyat, yang tahu bagaimana harga satu buah contrengan, maka koalisi sangat tipis jaraknya dengan pengkhianatan.

Beberapa partai kecil yang sempat saya ketahui, sangat konsisten dan demikian tulus dari waktu ke waktu tampil sebagai penggembira di Indonesia. Mereka demikian tulus, jujur dan berjuang untuk tetap bertahan dari awal reformasi hingga sekarang. Berganti nama, tetapi tidak tertarik untuk bubar dan menyatu dengan partai besar hanya dengan harapan bahwa nilai-nilai yang mereka bawa akan tetap terjaga dan diterima di masyarakat. Mereka hadir untuk mengais sedikit suara dan pengaruh demi kesejahteraan masyarakat yang mereka perjuangkan, meskipun barangkali, mereka juga sedang berjuang untuk itu.

Beberapa diantara mereka, sebenarnya dengan mudah mendapat modal kekayaan yang besar untuk bisa bergabung dengan partai raksasa. Beberapa kader diantaranya bahkan dengan mudah bisa menjadi tokoh dan caleg yang sukses andaikata mereka mau beralih baju. Dan mereka menolak, demi sebuah idealisme yang mereka bawa.

Lewat catatan ini, saya sampaikan terimakasih dan penghargaan setinggi tingginya kepada partai-partai kecil Indonesia. Keberadaan Anda adalah harapan kecil bagi kekecewaan masyarakat yang sudah muak dengan pengkhianatan suara partai besar. Harapan itu bisa jadi menjadi awal dari harapan besar Indonesia. Tetaplah berjuang, karena saya tahu sebagian dari Anda mungkin sudah demikian mencapai taraf kecapek-an perjuangan. Semoga Allah SWT memberkahi langkah anda. Terima Kasih…

No responses yet

Older Posts »