
Lama tidak upload, karena memang menggarap satu kerja besar disamping kerjaan di kantor yang meghimpit detik demi detik.
Kali ini saya menyajikan sebuah dongeng tentang kepahlawanan, nasionalisme ataupun rasa cinta tanah air. Judulnya adalah “Dongeng Anak Negeri-Menolong Garuda”, dengan memanfaatkan momentum HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 64. Disajikan dalam format PDF karena lebih ringan dan lebih portable untuk didownload. Maunya sih dibuat dalam bentuk flash, tetapi karena nggak sempet ya biarlah sementara ini memakai pdf dulu lah. Silahkan didownload untuk acara repertoar 17an di kampung anda, ataupun disajikan untuk anda, diprint atau mungkin dicerita ulangkan. Monggo, silahkan, lah.
Nah, selamat Menikmati. Semoga bermanfaat.
DOWNLOAD LINK
Silahkan saja download di sini (box.net),atau di sini(kitaupload.com)atau di sini (scribd)
Sinopsis
Penduduk nusantara hidup dalam duka karena kondisi tanah dan wilayah yang tandus, gersang, dan tidak menghasilkan. Sampai suatu ketika datanglah seekor burung yang besar. Burung itu jatuh dari langit dan rupanya sedang dikejar-kejar Raksasa Buto Penjajah. Penduduk yang melihat burung itu menderita, tidak ingin menyerahkan Burung tersebut kepada Raksasa Buto Penjajah. Maka, mereka bersatu mempertahankannya dari keserakahan Raksasa Buto Penjajah. Nah, bagaimana selanjutnya?
DIBALIK PENTAS
Dongeng ini mungkin tidak pernah menjadi booming ataupun legenda semacam karya besar Hans Christian Andersen. Tetapi sejarah mencatat bahwa sebuah karya akan dihargai oleh banyak orang jika kita sendiri mampu menghargainya dan mensyukurinya. Untuk itulah tulisan ini dibuat. Kalau di dalam DVD film ada behind the scene, maka saya coba menuturkan segala sesuatu yang terjadi di balik “Dongeng Anak Negeri –Menolong Garuda”—ini agar proses di balik pentas pembuatan karya ini bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang memang merasa perlu tahu dan bisa jadi mendapat gagasan besar, ide besar untuk membuat karya yang lebih baik dari apa yang telah saya lakukan. Tentu saja penghargaan tersendiri bagi saya jika hal itu terjadi. Ceritanya, saya sendiri terkesan, atau merinding, dengan penuturan Taufiq Ismail dalam majalah sastra Horizon ketika menggarap lagu Ketika Tangan dan Kaki Bicara yang kemudian dinyanyikan oleh Almarhum Chrisye. Saya menjadi inspired membaca bahwa berapa Chrisye menjadi punya pengalaman batin dan traumatis saat menyanyikan lirik Ketika Tangan dan Kaki Bicara yang kemudian hanya sekali..hanya sekali dalam hidupnya, dia nyanyikan. Subhanallah… Dalam hal ini, ternyata menceritakan proses pun bisa jadi sangat penting dan bernilai, bahkan mungkin melebihi hasil yang disajikan kepada penikmat seni.
Berawal dari comment sederhana di Facebook, seorang teman menuliskan (maaf, saya tidak menuliskan siapa namanya karena barangkali yang bersangkutan tidak berkenan): “Buku2 cerita anak yg d distibusikan lewat playgroup tokoh2ny bnyk yg pake peri dan kurcaci… tokoh2 imajiner untuk anak indonesia siapa ya?” Saya jadi merenung, agak jauh dari persoalan malah. Benar…kita kurang dongeng untuk anak kita. Proses mendongeng adalah menyampaikan nilai dalam bahasa renyak, serenyah snack, yang bisa dinikmati oleh anak-anak. Bisa jadi kita sendiri yang tidak bisa menceritakan dongeng karena kemampuan kita bercerita memang buruk, tetapi bisa jadi juga karena kita menganggap dongeng adalah sesuatu yang benar-benar imajiner sehingga nilai yang hendak disampaikan itu pun menjadi imajiner. Mungkin karena kehidupan di negeri kita dewasa ini jauh dari nilai-nilai luhur, sehingga berbicara kepahlawanan, berbicara tentang pengorbanan, berbicara tentang kepemimpinan, kerjasama, gotong royong, kekeluargaan, keadilan menjadi sesuatu yang imajiner juga. Kenyataan telah mempengaruhi imaninasi kita sehingga otak menjadi mandul untuk menceritakan nilai luhur kepada anak-anak kita, sementara, nilai agama seolah menjadi terlalu suci dan melangit untuk dibumikan. Dari sinilah saya tertantang: kenapa kita nggak mimpi tentang sesuatu yang ideal, dan bagaimana impian ini digarap sedemikian rupa sehingga orang lain pengen, gandrung, kangen, rindu ataupun addicted untuk bisa menwujudkannya menjadi kenyataan. Dan bagaimana kemudian hal itu bisa tersampai kepada anak-anak.
Well, saat tulisan ini dibuat, adalah bulan Agustus 2009 dimana akan diperingati HUT Proklamasi RI ke 64. Saat itu kemudian di Facebook saya tuliskan: mencari ide tentang nasionalisme untuk 17an. antara menggali sejarah dan bermimpi tentang masa depan. lalu menyajikannya dalam sebuah dongengan anak. pertanyaanya: apa sudah kering jiwaku? kok nggak ketemu-ketemu juga ya?
Lalu, setelah ngalor-ngidul merenung, entah darimana asalnya kemudian Allah SWT memberikan saya sebersit cahaya..cling..dan kemudian seolah ada gagasan untuk menuliskan ini. Saya tidak tahu persis apa sumbernya menduga, beberapa referensi yang inspiring di otak saya berasal dari dongeng Animal Farm, karya George Orwell, Jonathan Livingstone Camar, karya Richard Bach, Spongebob Squarepant pada kisah Spongebob BC karya Stephen Hillenburg, dan kemudian yang paling penting adalah diskusi Rasulullah SAW dengan prajuritnya pasca perang Badar:
“Sesungguhnya, kita baru kembali dari sebuah perang kecil untuk memerangi perang yang lebih besar.” Perkataannya mengejutkan para sahabat sehingga salah seorang pun bertanya, “Perang lebih besar apa yang Engkau maksud, ya Rasulullah?” Dan Rasulullah menjawab, “perang melawan hawa nafsu.”
Yak. Mungkin kita bisa bicara banyak tentang kalahnya nilai dengan nafsu. Lihat televisi yang full sampah, saya kira bisa dijadikan indikasi betapa perang di Indonesia pasca proklamasi jauh lebih besar daripada perang kemerdekaan itu sendiri. Mungkin, jika saja para pahlawan yang dulu berjuang untuk Indonesia itu hidup kembali, betapa mereka akan menangis darah.
OK, lanjut….
Dari sana kemudian mengalirlah tulisan tangan saya yang kayak ceker ayam sebagaimana tergores di kertas ini:

Kemudian dari naskah itu saya ketik di komputer menjadi draft awal yang demikian ini:

Naskah ini memang asyik jika dibacakan oleh orang-orang yang membaca repertoar, katakanlah bagi mereka yang hendak menyajikan dongeng anak pada perayaan 17an. Tetapi saya pikir, kayaknya sangat muspro jika modusnya hanya demi 17an. Kalo momentumnya sih boleh saja, tetapi justru kemanfaatannya diusakahan untuk bisa bertahan lama. Maka, demi mempercantik dan mendekatkan dengan dunia anak-anak modern yang dekat dengan komputer, saya tambahkan ilustrasi sekadarnya. Beberapa ilustrasi tangan itu kemudian saya scan menjadi beberapa, seperti ini:

Lalu, kenapa tidak sekalian saja formatnya menjadi powerpoint agar, kali-kali, misalkan saja ada Bapak Ibu Guru hendak memberikan presentasi kepada siswa, atau pada waktu 17an ingin menyajikan dongeng menggunakan projector LCD kan lebih dahsyat, daripada sibuk cari-cari bajakan Film Garuda di Dadaku, memutar dagelan yang jauh dari semagat malam 17an, atau malah nonton Film yang gak jelas sama sekali, kenapa nggak puter aja kisah ini?
Maka jadilah format powerpoint yang kemudian diupload secara berjangka karena kesibukan di sela-sela kerja yang menyita waktu. Latar belakang saya buat dari penggubahan wallpaper karya Arie Darusman yang diuploadnya di deviant-art.com

Jadinya, lembur-lembur malem hari demi sebuah cita-cita di luar urusan perut.
Nantinya, mimpinya, akan dibuat versi Flash ataupun MPEG sekalian dengan dubbing ataupun narasi suara saya sendiri (hehe…dah lama nggak ndongeng sih), full dengan muik pengiring dan lagu-lagu perjuangan yang menjadi suara latar yang menghidupkan cerita. Tapi, karena komputer dan mic, entah masalah hardware atau software lagi trouble sehingga nggak konek, niat ini saya batalkan sementara waktu. L
Tentang materi cerita, kenapa dipilih garuda, ya karena memang burung itu yang paling populer, tetapi anak-anak, atau mungkin anda, tidak pernah terinspirasi. Kok nggak cari binatang indonesia yang lain, bekantan, beruk, siamang, munyuk, monyet, kingkong, baboon dan sejenisnya? Mungkin mereka lebih cerdas. Kok nggak onta yang , barangkali, dinilai lebih islami karena menjadi tunggangan Nabi SAW? Kok nggak kancil..ah..sudahlah..terima saja dulu. Tantangannya, menurut saya, adalah memberi nilai plus kepada karakter yang sudah ada tetapi kosong makna, itu jauh lebih menantang daripada membuat karakter baru.
Kok yang dipilih Raksasa Buto Penjajah dengan sosok yang gemuk mengerikan dan urakan? Kok nggak cukup Raksasa Serakah saja dll? Sebagaimana yang pernah dibincangkan bersama dua orang teman di FB. Ya….. Bentuk raksasa itu diadaptasi dari wayang jawa. Ya kalo raksasanya cakil yang kurus kering kurang gizi nanti kan nggak seru. Bagus sih, kalau cakil menandakan orang lemah yang sombong, tetapi kalau merujuk pada penjajahan, mending raksasanya bergaya monster aja.
Cerita ini dibuat dengan setting masyarakat komunal, karakter masyarakat dengan karakteristik pekerjaan yang berbeda-beda. Pada konteks ini adalah Petani dan Nelayan yang menonjol, yah..itung-itung penghargaan bagi mereka yang secara jumlah adalah kaum mayoritas tetapi secara hitungan perhatian kita kepada mereka, mereka adalah kelompok yang termarjinalkan dari sisi apapun.
Saya menganggap cerita ini adalah cerita terbuka yang boleh diadaptasi, dirubah ataupun dikontekstualisasikan dengan situasi kondisi yang terbaik menurut Anda. Katakanlah lebih bagus kalau penduduknya didasarkan pada perbedaan suku, perbedaan umur, perbedaan agama dll, silahkan saja. Musuhnya tidak raksasa tetapi diganti dengan pasukan, misalkan: Satpol Proyek, atau Telur Busuk dll. Silahkan saja. Atau si Pertiwi diganti dengan Ibu Pertiwi, biar lebih dewasa, ataupun malah ditiadakan karena cenderung tahyul. Monggo saja. Perubahan apapun sangat dimungkinkan dengan catatan tidak membelokkan nilai utama ataupun arus utama yang menjadi inti dalam dongeng ini. Seberapakah batasannya? Terserah pada kedewasaan Anda untuk menilainya.
Permintaan saya, dimanapun Anda mempertunjukkan cerita ini, saya sangat berterima kasih jika Anda tetap memejengkan nama saya, disamping nama anda sebagai penyadur ataupun penggubah jika Anda memang hendak menggubahnya. Bukannya sok populer, tetapi biarlah saya menjadi bagian dari kritik, saran dan masukan yang membangun diri saya seandainya ada pihak-pihak yang mau memberikannya.
Jika mungkin ada pihak-pihak yang hendak menerbitkan cerita ini menjadi buku, saya harap untuk memahami etika penerbitan dengan menghargai karya cipta sebaik-baiknya sebagaimana yang ada dalam etika dan hukum yang mengatur tentang usaha penerbitan. Meskipun cerita ini adalah cerita tanpa gagasan menarik laba serupiah pun, tetapi usaha komersialisasi terhadap dongeng ini tentunya harus sesuai dengan hukum yang berlaku.
Saya menggarisbawahi, bukan cerita ataupun materi yang menjadi keutamaan di dalam dongeng ini, tetapi nilai-nilai yang hendak saya tawarkan di dalamnya itulah yang utama. Maka saya tidak terlalu khawatir mengenai penyebarluasan cerita ini ke manapun, ataupun penggubahan, sehingga mungkin jauh dari yang orisinil dari yang saya buat di sini. Atau bahkan usaha pemalsuan sepihak oleh mereka yang tidak bertanggungjawab, memetik keuntungan ataupun rupiah tanpa sepengetahuan saya. Bagi saya, Allah Maha Menghitung rejeki sehingga tidak pernah salah Dia membayar tunai terhadap setiap perbuatan umatnya. Jika nantinya cerita ini populer dengan banyak versi, ataupun ada pihak yang mengubahnya menjadi lebih baik sehingga yang bersangkutan (penggubah tersebut) populer, pastilah orang akan tetap cari versi original untuk diperbandingkan. Saya tidak khawatir. Justru malah bersyukur jika dongeng ini menjadi dongeng populer yang kemudian menjadi bahan cerita dari mulut ke mulut, amal jariyah insya Allah mengalir kepada kita semua. Allah SWT tidak mungkin dan tidak pernah salah.
Andaikata Anda merasa terpanggil untuk mensupport usaha saya, tentu saja saya tidak menolak. Donasi, silahkan kirim ke rekening: Bank Mandiri cabang MM UGM No. 137-00-0628060-2 a.n. FERIAWAN AGUNG NUGROHO. Atau yang terpenting, saya mohon doanya agar kami sekeluarga bisa tetap berkarya, sehat dan sejahtera dalam lindungan Allah SWT. Semoga Allah memberikan balasan yang sesuai atas apa yang Anda lakukan.
Terima kasih atas perhatiannya,
Tetaplah menjadi bintang di langit.
Hormat Saya,
Feriawan Agung Nugroho, S.Sos
www.teroriscinta.blog.friendster.com
ferrybm@yahoo.com
Tags: 17 agustus, Agung, anak, cerita anak, cinta tanah air, dongeng, Download, feriawan, Garuda, gotong royong, Indonesia, kebangsaan, kemerdekaan, kepahlawanan, Menolong, nasionalisme, negeri, nugroho, persatuan, republik