Aug 05 2009

DOWNLOAD Dongeng Anak Bernuansa Nasionalisme Dalam Rangka HUT Proklamasi ke 64–”Menolong Garuda”

Published by teroriscinta under Download, Idealism, cerpen

Lama tidak upload, karena memang menggarap satu kerja besar disamping kerjaan di kantor yang meghimpit detik demi detik.

Kali ini saya menyajikan sebuah dongeng tentang kepahlawanan, nasionalisme ataupun rasa cinta tanah air. Judulnya adalah “Dongeng Anak Negeri-Menolong Garuda”, dengan memanfaatkan momentum HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 64. Disajikan dalam format PDF karena lebih ringan dan lebih portable untuk didownload. Maunya sih dibuat dalam bentuk flash, tetapi karena nggak sempet ya biarlah sementara ini memakai pdf dulu lah. Silahkan didownload untuk acara repertoar 17an di kampung anda, ataupun disajikan untuk anda, diprint atau mungkin dicerita ulangkan. Monggo, silahkan, lah.

Nah, selamat Menikmati. Semoga bermanfaat.

DOWNLOAD LINK

Silahkan saja download di sini (box.net),atau di sini(kitaupload.com)atau di sini (scribd)

Sinopsis

Penduduk nusantara hidup dalam duka karena kondisi tanah dan wilayah yang tandus, gersang, dan tidak menghasilkan. Sampai suatu ketika datanglah seekor burung yang besar. Burung itu jatuh dari langit dan rupanya sedang dikejar-kejar Raksasa Buto Penjajah. Penduduk yang melihat burung itu menderita, tidak ingin menyerahkan Burung tersebut kepada Raksasa Buto Penjajah. Maka, mereka bersatu mempertahankannya dari keserakahan Raksasa Buto Penjajah. Nah, bagaimana selanjutnya?

DIBALIK PENTAS

Dongeng ini mungkin tidak pernah menjadi booming ataupun legenda semacam karya besar Hans Christian Andersen. Tetapi sejarah mencatat bahwa sebuah karya akan dihargai oleh banyak orang jika kita sendiri mampu menghargainya dan mensyukurinya. Untuk itulah tulisan ini dibuat. Kalau di dalam DVD film ada behind the scene, maka saya coba menuturkan segala sesuatu yang terjadi di balik “Dongeng Anak Negeri –Menolong Garuda”—ini agar proses di balik pentas pembuatan karya ini bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yang memang merasa perlu tahu dan bisa jadi mendapat gagasan besar, ide besar untuk membuat karya yang lebih baik dari apa yang telah saya lakukan. Tentu saja penghargaan tersendiri bagi saya jika hal itu terjadi. Ceritanya, saya sendiri terkesan, atau merinding, dengan penuturan Taufiq Ismail dalam majalah sastra Horizon ketika menggarap lagu Ketika Tangan dan Kaki Bicara yang kemudian dinyanyikan oleh Almarhum Chrisye. Saya menjadi inspired membaca bahwa berapa Chrisye menjadi punya pengalaman batin dan traumatis saat menyanyikan lirik Ketika Tangan dan Kaki Bicara yang kemudian hanya sekali..hanya sekali dalam hidupnya, dia nyanyikan. Subhanallah… Dalam hal ini, ternyata menceritakan proses pun bisa jadi sangat penting dan bernilai, bahkan mungkin melebihi hasil yang disajikan kepada penikmat seni.

Berawal dari comment sederhana di Facebook, seorang teman menuliskan (maaf, saya tidak menuliskan siapa namanya karena barangkali yang bersangkutan tidak berkenan): “Buku2 cerita anak yg d distibusikan lewat playgroup tokoh2ny bnyk yg pake peri dan kurcaci… tokoh2 imajiner untuk anak indonesia siapa ya?” Saya jadi merenung, agak jauh dari persoalan malah. Benar…kita kurang dongeng untuk anak kita. Proses mendongeng adalah menyampaikan nilai dalam bahasa renyak, serenyah snack, yang bisa dinikmati oleh anak-anak. Bisa jadi kita sendiri yang tidak bisa menceritakan dongeng karena kemampuan kita bercerita memang buruk, tetapi bisa jadi juga karena kita menganggap dongeng adalah sesuatu yang benar-benar imajiner sehingga nilai yang hendak disampaikan itu pun menjadi imajiner. Mungkin karena kehidupan di negeri kita dewasa ini jauh dari nilai-nilai luhur, sehingga berbicara kepahlawanan, berbicara tentang pengorbanan, berbicara tentang kepemimpinan, kerjasama, gotong royong, kekeluargaan, keadilan menjadi sesuatu yang imajiner juga. Kenyataan telah mempengaruhi imaninasi kita sehingga otak menjadi mandul untuk menceritakan nilai luhur kepada anak-anak kita, sementara, nilai agama seolah menjadi terlalu suci dan melangit untuk dibumikan. Dari sinilah saya tertantang: kenapa kita nggak mimpi tentang sesuatu yang ideal, dan bagaimana impian ini digarap sedemikian rupa sehingga orang lain pengen, gandrung, kangen, rindu ataupun addicted untuk bisa menwujudkannya menjadi kenyataan. Dan bagaimana kemudian hal itu bisa tersampai kepada anak-anak.

Well, saat tulisan ini dibuat, adalah bulan Agustus 2009 dimana akan diperingati HUT Proklamasi RI ke 64. Saat itu kemudian di Facebook saya tuliskan: mencari ide tentang nasionalisme untuk 17an. antara menggali sejarah dan bermimpi tentang masa depan. lalu menyajikannya dalam sebuah dongengan anak. pertanyaanya: apa sudah kering jiwaku? kok nggak ketemu-ketemu juga ya?

Lalu, setelah ngalor-ngidul merenung, entah darimana asalnya kemudian Allah SWT memberikan saya sebersit cahaya..cling..dan kemudian seolah ada gagasan untuk menuliskan ini. Saya tidak tahu persis apa sumbernya menduga, beberapa referensi yang inspiring di otak saya berasal dari dongeng Animal Farm, karya George Orwell, Jonathan Livingstone Camar, karya Richard Bach, Spongebob Squarepant pada kisah Spongebob BC karya Stephen Hillenburg, dan kemudian yang paling penting adalah diskusi Rasulullah SAW dengan prajuritnya pasca perang Badar:

“Sesungguhnya, kita baru kembali dari sebuah perang kecil untuk memerangi perang yang lebih besar.” Perkataannya mengejutkan para sahabat sehingga salah seorang pun bertanya, “Perang lebih besar apa yang Engkau maksud, ya Rasulullah?” Dan Rasulullah menjawab, “perang melawan hawa nafsu.”

Yak. Mungkin kita bisa bicara banyak tentang kalahnya nilai dengan nafsu. Lihat televisi yang full sampah, saya kira bisa dijadikan indikasi betapa perang di Indonesia pasca proklamasi jauh lebih besar daripada perang kemerdekaan itu sendiri. Mungkin, jika saja para pahlawan yang dulu berjuang untuk Indonesia itu hidup kembali, betapa mereka akan menangis darah.

OK, lanjut….

Dari sana kemudian mengalirlah tulisan tangan saya yang kayak ceker ayam sebagaimana tergores di kertas ini:

Kemudian dari naskah itu saya ketik di komputer menjadi draft awal yang demikian ini:

Naskah ini memang asyik jika dibacakan oleh orang-orang yang membaca repertoar, katakanlah bagi mereka yang hendak menyajikan dongeng anak pada perayaan 17an. Tetapi saya pikir, kayaknya sangat muspro jika modusnya hanya demi 17an. Kalo momentumnya sih boleh saja, tetapi justru kemanfaatannya diusakahan untuk bisa bertahan lama. Maka, demi mempercantik dan mendekatkan dengan dunia anak-anak modern yang dekat dengan komputer, saya tambahkan ilustrasi sekadarnya. Beberapa ilustrasi tangan itu kemudian saya scan menjadi beberapa, seperti ini:

Lalu, kenapa tidak sekalian saja formatnya menjadi powerpoint agar, kali-kali, misalkan saja ada Bapak Ibu Guru hendak memberikan presentasi kepada siswa, atau pada waktu 17an ingin menyajikan dongeng menggunakan projector LCD kan lebih dahsyat, daripada sibuk cari-cari bajakan Film Garuda di Dadaku, memutar dagelan yang jauh dari semagat malam 17an, atau malah nonton Film yang gak jelas sama sekali, kenapa nggak puter aja kisah ini?

Maka jadilah format powerpoint yang kemudian diupload secara berjangka karena kesibukan di sela-sela kerja yang menyita waktu. Latar belakang saya buat dari penggubahan wallpaper karya Arie Darusman yang diuploadnya di deviant-art.com

Jadinya, lembur-lembur malem hari demi sebuah cita-cita di luar urusan perut.

Nantinya, mimpinya, akan dibuat versi Flash ataupun MPEG sekalian dengan dubbing ataupun narasi suara saya sendiri (hehe…dah lama nggak ndongeng sih), full dengan muik pengiring dan lagu-lagu perjuangan yang menjadi suara latar yang menghidupkan cerita. Tapi, karena komputer dan mic, entah masalah hardware atau software lagi trouble sehingga nggak konek, niat ini saya batalkan sementara waktu. L

Tentang materi cerita, kenapa dipilih garuda, ya karena memang burung itu yang paling populer, tetapi anak-anak, atau mungkin anda, tidak pernah terinspirasi. Kok nggak cari binatang indonesia yang lain, bekantan, beruk, siamang, munyuk, monyet, kingkong, baboon dan sejenisnya? Mungkin mereka lebih cerdas. Kok nggak onta yang , barangkali, dinilai lebih islami karena menjadi tunggangan Nabi SAW? Kok nggak kancil..ah..sudahlah..terima saja dulu. Tantangannya, menurut saya, adalah memberi nilai plus kepada karakter yang sudah ada tetapi kosong makna, itu jauh lebih menantang daripada membuat karakter baru.

Kok yang dipilih Raksasa Buto Penjajah dengan sosok yang gemuk mengerikan dan urakan? Kok nggak cukup Raksasa Serakah saja dll? Sebagaimana yang pernah dibincangkan bersama dua orang teman di FB. Ya….. Bentuk raksasa itu diadaptasi dari wayang jawa. Ya kalo raksasanya cakil yang kurus kering kurang gizi nanti kan nggak seru. Bagus sih, kalau cakil menandakan orang lemah yang sombong, tetapi kalau merujuk pada penjajahan, mending raksasanya bergaya monster aja.

Cerita ini dibuat dengan setting masyarakat komunal, karakter masyarakat dengan karakteristik pekerjaan yang berbeda-beda. Pada konteks ini adalah Petani dan Nelayan yang menonjol, yah..itung-itung penghargaan bagi mereka yang secara jumlah adalah kaum mayoritas tetapi secara hitungan perhatian kita kepada mereka, mereka adalah kelompok yang termarjinalkan dari sisi apapun.

Saya menganggap cerita ini adalah cerita terbuka yang boleh diadaptasi, dirubah ataupun dikontekstualisasikan dengan situasi kondisi yang terbaik menurut Anda. Katakanlah lebih bagus kalau penduduknya didasarkan pada perbedaan suku, perbedaan umur, perbedaan agama dll, silahkan saja. Musuhnya tidak raksasa tetapi diganti dengan pasukan, misalkan: Satpol Proyek, atau Telur Busuk dll. Silahkan saja. Atau si Pertiwi diganti dengan Ibu Pertiwi, biar lebih dewasa, ataupun malah ditiadakan karena cenderung tahyul. Monggo saja. Perubahan apapun sangat dimungkinkan dengan catatan tidak membelokkan nilai utama ataupun arus utama yang menjadi inti dalam dongeng ini. Seberapakah batasannya? Terserah pada kedewasaan Anda untuk menilainya.

Permintaan saya, dimanapun Anda mempertunjukkan cerita ini, saya sangat berterima kasih jika Anda tetap memejengkan nama saya, disamping nama anda sebagai penyadur ataupun penggubah jika Anda memang hendak menggubahnya. Bukannya sok populer, tetapi biarlah saya menjadi bagian dari kritik, saran dan masukan yang membangun diri saya seandainya ada pihak-pihak yang mau memberikannya.

Jika mungkin ada pihak-pihak yang hendak menerbitkan cerita ini menjadi buku, saya harap untuk memahami etika penerbitan dengan menghargai karya cipta sebaik-baiknya sebagaimana yang ada dalam etika dan hukum yang mengatur tentang usaha penerbitan. Meskipun cerita ini adalah cerita tanpa gagasan menarik laba serupiah pun, tetapi usaha komersialisasi terhadap dongeng ini tentunya harus sesuai dengan hukum yang berlaku.

Saya menggarisbawahi, bukan cerita ataupun materi yang menjadi keutamaan di dalam dongeng ini, tetapi nilai-nilai yang hendak saya tawarkan di dalamnya itulah yang utama. Maka saya tidak terlalu khawatir mengenai penyebarluasan cerita ini ke manapun, ataupun penggubahan, sehingga mungkin jauh dari yang orisinil dari yang saya buat di sini. Atau bahkan usaha pemalsuan sepihak oleh mereka yang tidak bertanggungjawab, memetik keuntungan ataupun rupiah tanpa sepengetahuan saya. Bagi saya, Allah Maha Menghitung rejeki sehingga tidak pernah salah Dia membayar tunai terhadap setiap perbuatan umatnya. Jika nantinya cerita ini populer dengan banyak versi, ataupun ada pihak yang mengubahnya menjadi lebih baik sehingga yang bersangkutan (penggubah tersebut) populer, pastilah orang akan tetap cari versi original untuk diperbandingkan. Saya tidak khawatir. Justru malah bersyukur jika dongeng ini menjadi dongeng populer yang kemudian menjadi bahan cerita dari mulut ke mulut, amal jariyah insya Allah mengalir kepada kita semua. Allah SWT tidak mungkin dan tidak pernah salah.

Andaikata Anda merasa terpanggil untuk mensupport usaha saya, tentu saja saya tidak menolak. Donasi, silahkan kirim ke rekening: Bank Mandiri cabang MM UGM No. 137-00-0628060-2 a.n. FERIAWAN AGUNG NUGROHO. Atau yang terpenting, saya mohon doanya agar kami sekeluarga bisa tetap berkarya, sehat dan sejahtera dalam lindungan Allah SWT. Semoga Allah memberikan balasan yang sesuai atas apa yang Anda lakukan.

Terima kasih atas perhatiannya,

Tetaplah menjadi bintang di langit.

Hormat Saya,

Feriawan Agung Nugroho, S.Sos

www.teroriscinta.blog.friendster.com

ferrybm@yahoo.com

2 responses so far

Jun 18 2009

Melihat Polah Pemimpin yang Mirip Film Horor Indonesia: Catatan dari Pentas Garin dan Franky di PP Muhammadiyah 18 Juni 2009

Published by teroriscinta under Idealism, seni

Saya ingin mengutip satu ayat yang saya pikir, atau lebih tepatnya, saya fungsikan untuk mengingatkan saya (khususnya) dan kita di sini agar tidak masuk pada perilaku ini:

[10] Dalam hati mereka (golongan yang munafik itu) terdapat penyakit (syak dan hasad dengki), maka Allah tambahkan lagi penyakit itu kepada mereka dan mereka pula akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya, dengan sebab mereka berdusta (dan mendustakan kebenaran). [11] Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat bencana dan kerosakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang-orang yang hanya membuat kebaikan. [12] Ketahuilah! Bahawa sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya membuat bencana dan kerosakan, tetapi mereka tidak menyedarinya. [13] Dan apabila dikatakan kepada mereka: Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang itu telah beriman. Mereka menjawab: Patutkah kami ini beriman sebagaimana berimannya orang-orang bodoh itu? Ketahuilah! Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahui (hakikat yang sebenarnya). (saya ambil dari http://quran. al-islam. com/Targama/ dispTargam. asp?nType= 1&nSora=2&nAya=10&t=mal&l=mal, di sana juga ada qad arabnya)

Sebagai catatan, ini perilaku biasa dari saya ketika di JS, yakni membuat reportase ataupun tulisan kajian selepas nonton, atapun diskusi di luar. Nggak tau juga siapa yang menjadi pengikut saya sekarang ini.

Baru tadi pagi, oleh-oleh dari PP Muhammadiyah ketika nonton Franky dan Garin ngamen di sana, ada speech menarik dari ketua PP sekarang, Pak Haedar Nashir. Beliau katakan bahwa Islam begitu peduli terhadap persoalan-persoalan yang tidak melulu soal tauhid rububiyah, ilahiyah dll tetapi juga Tauhid dalam konteks Sosial (yang di Muhammadiyah diawali oleh Amien Rais meskipun awalnya ditentang juga oleh kiai-kiai Muhammadiyah) . Banyak banget ayat-ayat yang menandaskan tentang soal Keadilan sebagai ornamen pokok Tauhid Sosial dan ini dijelaskan mulai dari gagasan paradigmatik dalam ayat Qur’an, sampai dengan soal kecil-kecil. Tetapi, dalam hal ini Qur’an juga menjelaskan bahwa tidak akan pernah tegak keadilan kecuali berdiri di atas tatanan masyarakat yang sistemik (kita mengatakannya Islami ataupun Madani).
Gambaran  tentang masyarakat madani ini tentunya JS sudah banyak literatur. (silahkan cari sendiri..) Yang ingin saya tegaskan dewasa ini, di alam post modern ini, sistem yang baik adalah yang tidak menghasilkan sampah ataupun residu. Prof Damarjati menyebutnya atau mengilustrasikannya sebagai masyarakat lebah. Katakanlah begini: kalau dulu kemiskinan itu disebut sebagai dampak ataupun efek samping dari modernitas ataupun industrialisasi, maka sekarang ini tidak bisa dikatakan begitu. Kemiskinan itu ada karena ada proses yang keliru atau produk yang salah. Demikian juga pencemaran, wabah, global warming dan lain sebagainya, inilah hasil dari sebuah proses yang merusak.


Inilah kaitannya dengan gambaran yang dilukiskan Allah dalam Al Qur’an dalam ayat di atas, khususnya bagi manusia-manusia Indonesia yang ngakunya beragama Islam tetapi justru menciptakan sistem yang ancur-ancuran seperti menyusu dengan World Bank, IMF, IDB dan lain sebagainya, dan masyarakat dipaksa makan utang lewat BLT, PNPM tanpa tahu bahwa pada saatnya nanti pembunuhan sistematis tetapi pelan-pelan ini akan terjadi.


Agama Islam tentu saja memang punya peran dan bukan melulu sebagai ajaran yang normatif: hanya sujat sujut, jengkang-jengking dan ndonga dinonga saja. Islam adalah agama yang liberatif: membebaskan manusia dari ketertindasan. Dalam hal ini perlawanan harus dilakukan jika kita tidak ingin digolongkan sebagai orang yang membiarkan kemunafikan.

—-

Saudara-saudara, masyarakat kita ini kan masyarakat yang romantis melankolis. Artinya apa, masyarakat yang mudah terbuai oleh kata-kata muluk, puitis, lambang-lambang, slogan dan adegan yang simbolistis. Atau dengan kata lain, adalah masyarakat yang cukup puas dengan sesuatu yang artifisial.


Garin secara mbeling mengatakan bahwa masyarakat kita ini bisa disimbolkan dengan gambaran tontonan televisi yang dipenuhi dengan horor, sulap dan orang-orang muda yang bertengkar. Apa artinya? Horor: katakanlah diwakili dengan simbolitas hantu, masyarakat kita ini suka banget dengan sesuatu yang melayang-layang. Maka pemimpin kita sangat suka berbahasa yang melayang-layang dan tidak membumi. Kemudian hantu juga digambarkan sebagai arwah penasaran yang tidak sampai ke tujuan. Memang, pemimpin kita adalah pemimpin-pemimpin yang macam arwah penasaran dengan janji 5 tahun pembangunan, tetapi setelah 5 tahun toh ditinjau lagi, tidak jelas tujuannya dapat terukur dari indikator apa. Karakter lain bisa dicari lah: misalkan saja munculnya di malam hari dan selalu pada daerah-daerah pinggiran, tidak pernah di daerah sentrum. Tentang sulap: ya karena memang pemimpin kita pandai bermain sulap: memanipulasi angka, memukau dan menguasai panggung. Dan tentang anak-anak: hehe…..perilakuny a ya seperti anak-anak.


Intinya begini: bahwa negara kita ini harus disadari berdiri di atas pondamen yang keropos. Segalanya serba seolah-olah. Ekonomi kita benar-benar memiskinkan tetapi kita seolah-olah dihadapkan pada data kemajuan. Alih-alih mengucurkan kredit murah ke masyarakat, tetapi pada kenyataanya porsi hutang terbesar kita justru dinikmati oleh Bank-Bank Besar, dari bank-bank ini kemudian mengalir uang untuk pembiayaan Hypermart dan Supermarket macam Alfamart, Indomaret, Giant, Carefour dan lain sebagainya yang kemudian mematikan pasar tradisional atas persaingan yang tidak sehat, menguras gaji sebagian besar masyarakat indonesia. Anda harus tahu bahwa Hypermart itu bukan sekedar bisnis cari uang, tetapi secara politik-ekonomi adalah strategi untuk mematikan dagangan mbok-mbok di pasar tradisional secara jangka panjang dan barulah mereka menarik laba sesungguhnya manakala sudah tidak ada lagi pasar tradisional. Habis semua . Pendidikan kita benar-benar membodohkan dan bahkan menciptakan kengerian massal dengan UAN dlsb, dan iklim anak muda yang diciptakan tidak mendorong produktifitas generasi muda, tetapi seolah-olah kita benar-benar merasa bahwa kita menjadi bagian dari kemajuan dunia. Nasionalisme kita, rasa cinta tanah air, rasa menghargai para pahlawan dan  juga memberikan yang terbaik bagi bangsa bahkan sudah tidak pernah terdengar lagi, tanpa terkecuali.


Jean Bauldriard, salah seorang filsuf postmodernis, mensimbolisasikan kondisi ini sebagai. ritual bujuk rayu (seduction’s ritual) dimana terjadi kondisi yang makin nggak jelas mana yang fakta dan mana yang kulit, tetapi cukupkah terpuaskan hasrat masyarakat, maka rampung sudah persoalan.Olok-olok sederhana yang paling tepat juga keluar dari lagu Lupa-lupa Ingat dari Kuburan Band. Betapa masyarakat kita adalah masyarakat yang lupa-lupa Ingat.

Terlalu banyak yang dikupas oleh Garin dan Franky untuk bisa dituliskan. Mending saya tuliskan secara grambyangan saja ya.. Pada awal pentas, Garin mendongeng tentang Musolini, betama Musolini mengawali karier sebagai seorang pemuda yang menjawab kegelisahan masyarakatnya, dari awal ketertindasan sampai dengan masyarakat yang berjaya di Eropa. Tetapi di saat harta, tahta, pengaruh, jajahan dan semua keinginan Musolini terpenuhi: ternyata kekasih gelapnya meninggalkannya. Sebuah pesan terakhir dari sang kekasih berisikan kritik:”Engkau telah kehilangan rasa haru-mu”. Gambaran ini, adalah dongengan Garin untuk menagih rasa kemanusiaan kita sebagai manusia atas apa yang sudah kita lakukan. Betapa hancurnya bangsa ini dikarenakan perbuatan orang-orang yang sudah tidak memiliki moralitas dan kemanusiaan. Garin mengajak kita secara general memahami persoalan bahwa ketika banyak daerah memberontak, menginginkan kemerdekaan, otonomi dan melawan kepongahan pusat, semua itu terjadi karena pusat telah menghancurkan ekosistem, tatanan sosial, keramahan budaya, dan wilayah-wilayan yang dihormati oleh komunitas lokal yang kemudian dikeruk demi dijual murah kepada bangsa lain. Pada sisi lain, pemrintah tidak lahir untuk melaksanakan amanat rakyat seperti melindungi segenap bangsa, mencerdaskan bangsa. memajukan kesejahteraan umum serta menjadi bagian dari perdamaian bangsa, tetapi malah lempar batu sembunyi tangan. Ketika TKI menderita, pemerintah bilang: belum ada aturannya. Ketika pasien menjerit karena tekanan rumahsakit: menteri bilang: belum ada regulasinya.

Franky bersama Garin mengajak kita sebagai bangsa untuk kembali memahami Pancasila yang telah menjadi dasar negara. Konon, menurut Garin, Sukarno memberikan kunci penciptaan Pancasila ataupun hal-hal yang berkaitan dengan kemasyarakatan dengan dua kata penting;”tidak njelimet’. Hal itulah kunci bagaimana pemimpin bangsa melayani rakyat: tidak njelimet. Dan kemudian, masyarakat diajak untuk melihat calon pemimpin kita dari membaca fakta data, bukan dari kicauan mimpi belaka.

Semoga masa depan Indonesia menjadi lebih baik. Amin.

catatan: foto diatas diambil dari sini(KRJogja)

No responses yet